Batik Indonesia, Warisan Budaya untuk Dunia

Bagikan Artikel
Proses membuat batik tulis. Gambar diambil dari karya Raditya – Getty Images lewat Canva

Warisan budaya yang masih bertahan hingga masa kini dan tetap dilestarikan oleh warga Indonesia, salah satunya adalah batik. Batik Indonesia memiliki kekayaan simbolisme yang berkaitan dengan status sosial, komunitas lokal, alam, sejarah dan warisan budaya. Selain itu, batik membuat masyarakat Indonesia memiliki kesatuan identitas sebagai bangsa. Batik dapat dilihat sebagai warisan tradisi yang masih dapat bertahan dalam arus budaya modern.

Asal kata batik

Batik merupakan teknik menggambar corak dengan menggunakan canting dan menggoreskan malam atau lilin pada kain sehingga menghasilkan sebuah kain bermotif.  Kata “batik” sendiri secara etimologis berakar pada kata bahasa Jawa, “ambathik”. Kata “ambathik” merupakan gabungan dua kata, yaitu “amba” yang berarti lebar atau luas dan “nithik” yang berarti membuat titik. Jadi, gagasan awal kata batik adalah mengaitkan titik-titik menjadi suatu gambar pada sebuah kain yang lebar.

Batik, hiasan busana para bangsawan

Beberapa kartu pos di dalam buku Faces of Indonesia, karya Scott Merrillees. (atas ki-ka) Nampak 4 perempuan perajin batik dan Pangeran Paku Alam VII mengenakan busana batik. (bawah ki-ka) Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, seorang perajin batik, dan Bibi Rajidah, seorang pemimpin kelompok tari di Kasultanan Yogyakarta.

Pada zaman dahulu, busana batik hanya dikenakan oleh kaum bangsawan, keluarga kerajaan, dan para pekerja di dalam istana. Kain batik bukan untuk masyarakat biasa. Teknik membatik telah dikenal sejak zaman Majapahit, lalu berkembang pada zaman Mataram Islam, dan berlanjut hingga zaman Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perkembangan kesenian batik ini meluas di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dalam buku Faces of Indonesia: 500 Postcards 1900-1945 (2021), Scott Merrillees mengajak pembaca menjelajah Indonesia dan melihat berbagai keunikan busana suku-suku di Indonesia yang ada pada tahun 1900 –1945.

Motif pada kain batik pun dipengaruhi oleh budaya setiap daerah, letak geografis, status seseorang, geometri, maupun keadaan alam sekitar, seperti flora dan fauna. Kerangka gambar yang memadukan antara garis, titik, bentuk, dan “isen-isen” menjadikan satu kesatuan yang menghasilkan batik secara utuh. “Isen-isen” dalam motif batik adalah titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang di antara ornamen-ornamen tersebut.

Baca Juga :  Food Safety dalam Bisnis Makanan

Batik yang mendunia

Motif batik yang sempat jadi seragam karyawan Periplus. (Foto diambil April tahun 2011. Dokumen pribadi.)

Lalu, bagaimana ceritanya batik bisa diakui sebagai warisan budaya dunia? Kita kembali pada 29 September 2009, saat United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pada sidang yang diikuti oleh 24 negara itu, UNESCO memutuskan untuk memasukkan teknik batik dalam daftar warisan budaya global. Akhirnya, pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Hal ini membuktikan betapa budaya Indonesia diakui oleh dunia internasional.

Setelah diakuinya batik oleh UNESCO, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan ini ditandai dengan terbitnya Kepres No. 33 Tahun 2009. Pemerintah ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia supaya turut melestarikan, melindungi, dan mengembangkan batik Indonesia. Pemerintah juga menyarankan masyarakat untuk memakai pakaian batik setiap peringatan Hari Batik Nasional.

Busana para presiden

Busana batik yang dikenakan oleh para presiden.

Terkait dengan promosi kain batik di dunia internasional, kita patut mengingat sosok Presiden Kedua RI, Soeharto, yang kerap mengenakan batik setiap menghadiri konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selain itu, beliau kerap memberikan cindera mata pada tamu kenegaraan dan para pemimpin negara sahabat. Langkah ini juga sering kali diikuti oleh para presiden setelahnya.

Seluruhnya, Indonesia telah memiliki tiga karya agung budaya lisan dan tak benda warisan manusia yang telah ditetapkan oleh UNESCO dan diakui dunia. Yang pertama wayang pada tahun 2003, kemudian keris tahun 2005, dan yang ketiga adalah batik diakui pada tahun 2009. UNESCO menilai bahwa teknik, simbol, dan budaya batik melekat dengan jalan panjang kebudayaan Indonesia.

Pendar Periplus lain

Baca Juga :  Olimpiade Tokyo 2020: Dari Hobi, Mendatangkan Prestasi