Memaknai Kebahagiaan Dalam Pemikiran Timur

Bagikan Artikel
Memaknai Kebahagiaan dalam Pemikiran Timur

Dunia pemikiran timur atau oriental memiliki cara pandang yang unik terhadap kehidupan manusia di hadapan tegangan antara kebahagiaan dan kesedihan. Keduanya perlu ada secara bersamaan dan berimbang. Keduanya tidak saling meniadakan, justru malah memperkaya cara bersikap manusia terhadap kenyataan. Bentuk menghindar dari kesedihan atau hal-hal negatif dipahami sebagai pelarian belaka. Bahkan, dalam beberapa pandangan malah membuat keadaan semakin buruk. Ajakan untuk merengkuh kesedihan adalah kunci dalam memaknai kebahagiaan. Bukan dengan menghilangkan, melainkan dengan menyadari keberadaannya. Di bawah ini, kami rekomendasikan 5 buku tentang upaya memaknai kebahagiaan dari 5 penulis kenamaan. Masing-masing memiliki sudut pandang dan pendekatan yang khas. Sepintas, bisa jadi berbeda. Namun, pada prinsipnya, semuanya sepakat akan satu kata kunci: harmoni.

1. The Art of Happiness

Soal manusia tidak bisa menghindar dari penderitaan, Dalai Lama juga mengatakan hal serupa, sama seperti yang dituliskan oleh Viktor E. Frankle dalam bukunya, Man’s Search for Meaning . Saat berhadapan dengan pertanyaan dari Dr. Howard Cutle, “Apakah seorang Dalai Lama bisa bersedih? Bagaimana mengatasi kesedihan?” jawaban yang muncul begitu singkat. Tidak ada di dalam dunia ini, rumus untuk menghindar dari penderitaan. Justru, Dalai Lama malah mengajukan pertanyaan, apakah penderitaan sebegitu harus dihindari alih-alih direngkuh saja apa adanya. Jika sedang bersedih, ya bersedihlah, berkabunglah. Di dalam buku ini, pembaca akan melihat dengan jelas ilustrasi-ilustrasi bagaimana melewati (bukan menghindari) rintangan hidup pada sumber kedamaian batin yang dalam dan abadi. Berdasarkan 2.500 tahun meditasi Buddhis dalam balutan akal sehat, buku ini mengajak pembaca untuk melintasi batas-batas tradisi untuk membantu pembaca memahami kesulitan umum semua manusia. Semakin paham, semakin tahu bagaimana cara menyambutnya.

2. The Ikigai Journey: A Practical Guide to Finding Happiness and Purpose the Japanese Way

Ikigai adalah suatu ruang di mana hasrat kita  tentang apa yang kita cintai, misi tentang apa yang kita abdikan, panggilan tentang apa yang kita berikan kepada dunia dan profesi tentang bagaimana hasrat dan bakat kita dapat menjadi sarana pemenuhan kesejahteraan ekonomi bertemu. Buku ini memberikan wawasan tentang bagaimana semua elemen ini menemukan titik keseimbangan. Metode ikigai bisa membantu Anda menemukan kedamaian dan kenyamanan, serta tetap memaknai kebahagiaan di tengah-tengah kehidupan yang padat, cepat, dan sibuk ini. Secara teknis, Anda beroleh kesempatan dan harapan untuk bisa memiliki umur yang panjang dengan tetap berpijak pada satu pengalaman: bahagia!

Baca Juga :  The Love Songs of W.E.B. Du Bois

3. How to Live When a Loved One Dies: Healing Meditations for Grief and Loss

Thich Nhat Hanh menawarkan kelegaan sekaligus hiburan kepada siapa saja yang sedang melalui kesedihan dan kehilangan yang gulana. Kata-kata bijak seorang guru Zen tentunya akan memberikan kesembuhan batin untuk melihat penderitaan dari perspektif rasa syukur. Dalam pengalaman kehilangan, seringkali yang bisa kita lakukan adalah tetap bernapas. Di dalam nafas ini, kita bisa merasakan kasih sayang yang khas. Lewat tuntutannya, Thich Nhat Hanh akan memandu Anda melewati badai emosi kematian orang yang dicintai. Dengan praktik seputar pernapasan dengan penuh perhatian, Anda akan terbantu untuk berdamai dengan kematian dan kehilangan. Anda akan merasa terhubung dengan orang yang Anda cintai lama setelah mereka pergi. Hebatnya, Anda sendirilah yang akhirnya mampu mengubah kesedihan menjadi penyembuhan dan sumber kebahagiaan.

4. Love for Imperfect Things

Mudah sekali bagi kita untuk berpaling dari tekanan hidup dengan mengabaikan masalah. Yang ada, semakin mengakibatkan kecemasan atau depresi. Ingat nasehat sesaat sebelum kita terbang. Sang pramugari berpesan jelas, untuk mengenakan oksigen kita sendiri sebelum membantu orang lain. Artinya, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri sebelum kita bisa berdamai dengan dunia di sekitar kita. Biksu Buddha Zen, Haemin Sunim menawarkan kebijaksanaan yang lahir dari permenungannya tentang seni perawatan diri. Hanya dengan menerima diri sendiri dan kekurangan, Anda kembali memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan membahagiakan. Dengan lebih dari tiga puluh lima ilustrasi estetis penuh warna, Anda akan lebih terbantu untuk belajar mencintai diri sendiri, hidup Anda, dan semua orang di dalamnya.

Baca Juga :  10 Buku tentang Gaya Kepemimpinan CEO, Politikus, dan Cendekiawan

5. Abundance: The Inner Path to Wealth

Kita lebih mudah jatuh pada perkara soal kekurangan, kelangkaan, dan keterbatasan. Juga, malahan berfokus pada apa yang tidak dimiliki. Tentunya, ini yang membuat perasaan tidak aman dan tidak bahagia. Kita malah berandai-andai ‘kalau saja saya bisa memiliki hal-hal itu, saya bisa bahagia’. Namun, memandang kekayaan dengan uang atau harta benda sebagai ukuran kebahagiaan justru membuat kita semakin merasa terkuras dan kosong secara rohani. Yang ada, kita makin jauh dari rasa kedamaian batin, penerimaan, dan kepuasan sejati. Namun, ada jalan batin menuju kesejahteraan dan kekayaan untuk menikmati kekayaan semesta dan kehidupan yang tak terbatas. Deepak Chopra menerangi jalan ini. Lewat tuntunannya, Anda akan terbantu untuk memasuki kesadaran yang lebih dalam. Anda diajak untuk menjadi agen perubahan dalam hidup mereka sendiri. Dengan menggabungkan ajaran kuno dan praktik spiritual dengan kebijaksanaan yang dikumpulkan selama empat dekade dalam pengobatan pikiran-tubuh, Deepak menunjukkan bagaimana mengatasi perasaan keterbatasan dan ketakutan yang dihasilkan sendiri untuk mengalami kelimpahan sejati dalam semua aspek kehidupan. Ada tujuh langkah bersama dengan meditasi dan teknik perhatian untuk membantu Anda memfokuskan dan mengarahkan perhatian, energi, dan intuisi Anda sehingga Anda dapat mengalami stabilitas, kemakmuran, wawasan, kreativitas, cinta, dan kekuatan sejati. Di sinilah, kita baru bisa memaknai kebahagiaan sebagai suatu keberlimpahan.