Aku Pendidik Indonesia: Ada Jiwa Anak Yang Abadi di Manusia

0
Share

Guru Sebagai Fasilitator

GURU SEBAGAI FASILITATOR

Agaknya terlalu klise mendengar kalimat ini. Hampir semua yang mendengar, membaca, melihat, dan menyimak mengiyakan. Namun, pada praktiknya, maaf, definisi fasilitator perlu kita tinjau ulang. Mengapa?

Selama masih ada guru yang masih terbebani plus jumpalitan mengurus administrasi dan segala bentuk pekerjaan paperwork yang menyita waktu, artinya guru masih belum menjadi fasilitator. Guru masih mengambil peran sebagai sutradara plus penulis naskah ketambahan aktor utama.

Gagasan administrasi guru adalah gagasan yang didasarkan pada good preparation good result. Perencanaan yang baik adalah setengah keberhasilan, demikian keyakinannya. Tidak salah, namun tidak tepat juga. Bayangkan, begitu libur kenaikan kelas, guru berkutat: menyeleksi, memilah, menjahit, sampai menata materi-materi dan ide-ide kreatif sedemikian rapi. Guru sukses menjadi penulis naskah. Lantas memasuki tahun ajaran baru, guru menjadi sutradara: mengarahkan jalannya ini itu, kapan si A begini, kapan si B dan C sekelompok mengerjakan ini, kapan si D, E, F, G sampai Y membantu si Z karena tidak mudeng-mudeng.

Begitu bel berbunyi tanpa pelajarannya dimulai, guru menjadi aktor. Dia tampil di depan menyajikan ide-ide dan materi-materi yang sudah disiapkan sedemikian rapi. Peserta Didik duduk, melihat sang aktor sedang membacakan atau menghapalkan naskahnya. Apalagi, kalau gurunya harus berusaha selucu atau seatraktif mungkin agar pembelajaran nampak menarik dan menghibur. Lantas apa yang dilakukan peserta didik? Menulis jawaban? Menyelesaikan tugas kelompok? Membuat prakarya ini itu? Mencari tambahan informasi di internet atau koran? Jika guru terus-terusan mengambil 3 peran ini, perlu diwaspadai: burn out atau mungkin black out!

Tantangan dalam hal ini terasa berurusan dengan iman: sebaiknya, guru benar-benar menghayati perannya sebagai seorang pedagog secara harafiah, yaitu seorang pelayan. Guru melayani bukan meminta ini-itu. Prinsip guru sebagai fasilitator lantas perlu diyakini sebagai kerelaan guru untuk ‘menarik diri’ dengan sikap penuh ‘rendah hati’ untuk meyakini bahwa setiap peserta didik dibekali karunia dari Tuhan untuk menyerap pengetahuan guna mengembangkan diri.

Ada metafor menarik dari pemikiran Lynn Bruce yang terinspirasi dari pakar pendidikan, Charlotte Manson. Menurut Anda, manakah yang lebih mungkin terjadi pada hari pertama seorang anak belajar piano:

1. Seorang anak dengan begitu percaya diri memainkan piano di hadapan gurunya yang seorang maestro?

2. Seorang murid yang begitu terkagum-kagum dan ketagihan melihat sang guru memainkan partita?

3. Seorang murid yang begitu bersemangat belajar saat sang guru mempersilahkan bangkunya dan membiarkan anak ini mencoba?

Di hari pertama, memang excitement dari anak perlu dibangun lebih dulu. Keceriaan. Semangat. Ketiga hal di atas sama-sama bertujuan untuk membuat anak lebih semangat … di hari pertama. Pertanyaannya, mana yang lebih mungkin. Untuk anak yang sudah pernah les privat piano di rumahnya, situasi (1) tentu membuatnya bersemangat dan percaya diri. Untuk anak yang belum pernah belajar piano tapi sungguh ingin melihat permainan piano seperti yang suka dia tonton di YouTube, situasi (2) tentu bakal menjadi wow experience! Untuk anak yang belum tahu apa itu piano bahkan tidak pernah mendengar bebunyian piano (kecuali organ tunggal), bakal begitu berapi-api di dalam ketidakpercaya-diriannya saaat berada di situasi (3).

Guru yang sungguh berniat menjalahkan perannya sebagai fasilitator diajak untuk mengenali dulu karakter para peserta didiknya, apakah si anak sudah pernah belajar piano, baru tahu piano dari HP, atau baru pertama kali melihat piano. Lantas, kita mulai masuk ke falsafah keempat yang saya hidupi sendiri. Sederhananya, mengenal anak. Sekedar bertanya. Setelah kita sepakat soal definisi kefasilitatoran seorang pendidik, hal ini akan membantu guru untuk mengurutkan deskripsi tugasnya secara profesional. Barulah, kita bisa masuk ke prinsip yang lebih dalam bagi seorang pedagog (baca: pelayan), yaitu cura personalis. Dengan bahasa yang lebih kekinian, “Should we do this?” a.k.a Viability.

Pages: 1 2 3 4 5