BATIK YANG MEMESONA GENERASI MUDA

Bagikan Artikel
Tugu kota Yogyakarta dilihat dari ketinggian. Yogyakarta adalah salah satu kota yang diidentikan dengan kesenian batik.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih ada sekolah yang memberikan pelajaran membatik kepada murid-muridnya. Sekolah tersebut adalah SMP Stella Duce 1, Yogyakarta. Tidak hanya sekadar teori, tetapi murid pun diajak berkecimpung langsung dalam proses membatik. Tradisi membatik di sekolah SMP Stella Duce 1 Yogyakarta ini sudah ada sejak tahun 1985. Media yang digunakan untuk pembuatan batik awalnya hanyalah sebuah kain seukuran sapu tangan. Namun, karena satu dua hal, akhirnya dipilihlah kain berukuran 1,5 – 2 meter yang lebih besar. Langkah ini diambil agar hasil proses membatik para siswa dapat digunakan sebagai pakaian mereka masing-masing.

Nampak, 2 peserta didik dari SMP Stella Duce 1 Yogyakarta sedang membatik baju sekolah yang akan mereka pakai sendiri. SMP Stella Duce menerima penghargaan MURI sebagai Sekolah Pelopor Pengguna Batik Karya Sendiri. Foto diambil dari TEMPO/Suryo Wibowo

Pelajaran membatik

Adalah kebanggaan bagi SMP Stella Duce 1,Yogyakarta, karena telah memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) tepat pada perayaan Hari Batik Nasional tahun 2012. Mereka menjadi sekolah pelopor pengguna batik karya sendiri. Penghargaan tersebut diberikan karena SMP Stella Duce 1, Yogyakarta menjadi sekolah yang membuat batik dan mengenakan karyanya sendiri untuk seragam pada hari Jumat. Sekolah ini pun memperoleh penghargaan kembali dari Presiden Joko Widodo di tahun 2019.

Proses membatik membantu mengasah kreativitas, kesabaran, menghargai salah satu hasil budaya Indonesia. Banyak nilai positif dibalik proses membatik ini, sebab anak-anak muda masa kini kurang memerhatikan hasil budayanya sendiri. Berbeda dengan anak-anak muda dari abad yang lampau, mereka tidak membatik sendiri kain yang hendak digunakan menjadi busana. Para murid SMP Stella Duce 1 diajari teknik membatik tradisional dengan menggunakan canting dan malam. Mereka pun diberikan kebebasan untuk menggambar motif dan mewarnai pola sesuai yang mereka inginkan, sehingga batik yang dihasilkan memiliki kekhasan.

Batik Marubayu

Aliya Diza Rihadat Ulaisy, pembatik cilik dari kota Batu, Malang berfoto bersama Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Foto diambil dari TIMES Indonesia/ Muhammad Dhani Rahman.

Masa pandemi Covid-19 yang bermula pada awal 2020 tidak membuat seorang siswa di Kota Batu, Malang tinggal diam. Kreativitas dan keuletan Aliya Diza Rihadat Ulaisy, seorang siswi kelas 3 SMPN I Kota Batu, Malang, berbuah manis. Berkat hobi membatik yang ditekuninya, Aliya berhasil mendapat penghargaan Anugerah Kebudayaan Kategori Anak dan Remaja 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aliya menghasilkan karya batik sendiri yang disebut dengan Marubayu (singkatan dari Maneko rupo Batik Ayu).

Baca Juga :  Tips Memilih Buku Import untuk Anak

Aliya pun unggul dan berprestasi dalam bidang seni maupun pendidikan, ia kerap menjuarai beberapa lomba membatik baik di tingkat provinsi maupun nasional. Rupanya, Aliya tidak hanya jago dalam membatik. Ia juga dianugerahi kecemerlangan dalam bidang Matematika. Aliya pernah menjadi Juara 1 Olimpiade Matematika tingkat kota pada tahun 2016.

Mengangkat kekayaan lokal

Para pembatik cilik sedang membuat batik di Sanggar Batik Tulis Andhaka, Batu, Jawa Timur di bawah bimbingan Anjani Sekar Arum. Foto diambil dari KOMPAS.com/Reni Susanti.

Ketertarikannya dengan batik membuatnya berlajar membatik di Sanggar Batik Tulis Andhaka, Kota Wisata Batu, semenjak kelas 3 SD. Dari sanalah Aliya menciptakan batik Marubayu. Motif itu sendiri mencoba menggambarkan keanekaragaman dan keindahan di Kota Batu. Ia memilih kata Marubayu karna motif batik itu melukiskan kekagumannya pada keanekaraagaman, keelokan, dan kemakmuran agropolitan Kota Wisata Batu yang khas. Motif batik Marubayu menggambarkan hasil perkebunan apel, stroberi, jeruk, pertanian seperti wortel, kentang, kubis, tempat wisata, dan kebudayaannya.

Hingga kini, Aliya sudah menghasilkan kurang lebih 300 karya. Ia membatik di kain, bantalan kursi, taplak meja, dan lukisan. Aliya berharap bisa mengajak anak-anak masa kini supaya turut andil, mencintai, dan mempertahankan warisan budaya Indonesia ini. Selain itu, ia ingin kemampuannya itu dapat memberi motivasi masyarakat agar tetap memelihara warisan budaya khas Indonesia.